Jumat, 03 Agustus 2012

Makalah Bahasa Indonesia : Model Pembelajaran Kooperatif

Makale, Nikodemus saung Blog.


KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas berkat dan Rahmat dan Karunia-Nya yang selalu penulis alami sehingga  makalah ini dapat terselesaikan.
Makalah tentang Model Pembelajaran Kooperatif ini disusun sebagai tugas pengganti ujian akhir semester pada mata kuliah Bahasa Indonesia jurusan Pendidikan Matematika, UKI Toraja semester genap tahun ajaran 2011/2012.
Penulis mengangkat materi tentang model-model pembelajaran untuk lebih lagi memahami tentang berbagai macam model-model pembelajaran yang dapat digunakan pada saat mengajar. Hal ini tentunya sangat bermanfaat baik bagi penulis sebagai calon guru maupun kepada yang membacanya.
Dalam penulisan makalah ini, penulis sadar bahwa terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu penulis berharap ada masukan yang dari pembaca yang dapat meningkatkan kemampuan penulis kedepannya.
Tidak lupa penulis menyampaikan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan sumbangan baik secara material maupun berupa pikiran yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya.
Makale, Juni 2012
                                                                                           
                                                                                          Penulis


DAFTAR ISI
Halaman Judul ..........................................................................................................
Kata pengantar ......................................................................................................... i
Daftar isi.................................................................................................................. ii
BAB I. PENDAHULUAN .................................................................................... 1
1.1.       Latar Belakang Masalah.......................................................................... 1
1.2.       Batasan Masalah...................................................................................... 3
1.3.       Rumusan masalah ................................................................................... 3
1.4.       Tujuan penulisan ..................................................................................... 3
1.5.       Manfaat penulisan .................................................................................. 4
BAB II. MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF ........................................ 5
2.1.       Pengertian model pembelajaran kooperatif............................................. 5
2.2.       Karakteristik model pembelajaran kooperatif.......................................... 8
2.3.       Keunggulan dan kelemahan model pembelajaran kooperatif ............... 13
BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................... 16
3.1.       Simpulan ............................................................................................... 16
3.2.       Saran ..................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 18


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.            Latar Belakang Masalah
Peranan seorang guru dalam tercapainya sebuah tujuan pembelajaran sangat besar. Cara seorang guru menyelenggarakan pembelajaran akan sangat menentukan hasil akhir atau tercapainya tujuan yang telah digariskan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa seorang guru harus bisa menguasai berbagai macam cara dalam menyampaikan pembelajaran agar peserta didik dapat menyerap setiap materi yang diajarkan secara maksimal.
Pada saat ini, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, telah bermunculan bermacam-macam cara yang dapat digunakan dalam menyelenggarakan pembelajaran, yang lebih dikenal dengan model-model pembelajaran. Model-model tersebut telah melalui percobaan-percobaan oleh para ahli dalam bidang pengajaran, sehingga sangat cocok untuk diterapkan dalam proses pembelajaran.
Akan tetapi kebanyakan guru yang ada pada saat ini, khususnya di Indonesia, masih tetap menggunakan metode-metode yang oleh sebagian orang dianggap sudah terlalu “usang”. Metode-metode tersebut yaitu seorang guru menjadi pusat pembelajaran dan merupakan satu-satunya sumber pengajaran dalam kelas. Guru menyampaikan materi dan siswa mendengarkan serta mencatat materi tersebut. Siswa tidak diberikan kesempatan untuk terlibat secara langsung atau aktif dalam proses pembelajaran yang pada akhirnya hasil yang didapat adalah kebanyakan dari peserta didik dapat mengetahui materi yang disampaikan tetapi sangat sedikit yang mampu memahami secara mendalam.
Salah satu metode yang dimaksud adalah metode ceramah yang pada saat ini masih merupakan metode yang paling banyak digunakan oleh guru dalam menyampaikan pembelajaran. Dalam metode tersebut proses pembelajaran benar-benar berpusat pada guru sehingga peserta didik tidak dapat berperan secara aktip dalam pembelajaran. Peserta didik hanya menerima apa yang disampaikan oleh guru saja dan tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan sendiri apa yang yang telah diterimanya itu.
Metode tersebut diatas juga tidak memberi kesempatan untuk terjadinya interaksi antar peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung. Padahal adakalanya seorang peserta didik justru dapat memahami materi yang diajarkan pada saat itu setelah mendengar ulasan atau penjelasan dari temannya.
Oleh karena itu seorang guru harus dapat menerapkan model-model pembelajaran yang  memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran dan bahkan memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk berinteraksi dan saling membantu dalam memahami materi yang disampaikan. Sehingga melalui keterlibatannya tersebut, peserta didik mampu memahami materi yang dipelajarinya secara lengkap dan luas. Dalam hal ini, seorang guru lebih berperan sebagai seorang manager pembelajaran, artinya guru menggunakan seluruh komponen pembelajaran termasuk peserta didik untuk melangsungkan proses pembelajaran. Sehingga diharapkan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat dicapai secara maksimal. Model-model pembelajaran tersebut salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif.
Seorang guru termasuk mahasiswa sebagai seorang calon guru perlu mengenal lebih jauh tentang berbagai macam model pembelajaran. Bagaimana karakteristik suatu model pembelajaran dan penerapannya sehingga diharapkan dapat menjadi seorang guru yang profesional. Oleh karena itu penulis mengangkat masalah penggunaan model pembelajaran kooperatif dalam makalah ini.
1.2.            Batasan Masalah
Dalam makalah ini penulis hanya akan membahas model pembelajaran kooperatif secara umum yaitu pengertian, karakteristik, dan kelebihan serta kekurangan model pembelajaran kooperatif.
1.3.            Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan batasan masalah diatas, maka rumusan masalah dapat dijabarkan sebagai berikut :
1.         Apa yang dimaksud model pembelajaran kooperatif?
2.         Bagaimana karakteristik model pembelajaran kooperatif?
3.         Apa kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kooperatif?
1.4.            Tujuan Penulisan
Sesuai dengan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan dari makalah ini adalah :
1.         Untuk lebih memahami dan mendalami model-model pembelajaran kooperatif
2.         Untuk lebih mengetahui dan memahami karakteristik dari model pembelajaran kooperatif.
3.         Mengenal dan memahami kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kooperatif .
1.5.            Manfaat Penulisan
Penulisan makalah tentang model-model pembelajaran kooperatif ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang model-model pembelajaran baik bagi penulis maupun bagi pembacanya, yang tentunya akan menjadi bekal yang bagus terutama bagi penulis yang adalah seorang calon guru.


BAB II
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

2.1.       Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
2.1.1.      Pengertian model pembelajaran
Dalam dunia pengajaran, model pembelajaran adalah sesuatu yang sangat biasa disebut. Akan tetapi masih banyak orang yang tidak dapat memahami dengan baik apa yang dimaksud dengan model pembelajaran.
Menurut Joyce dan Weil (dalam Rusman, 2010:133) menyatakan bahwa :
Model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain.

Sementara itu, menurut Kemp (dalam Rusman, 2010:132) “strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien”.
Dari kedua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah rencana tentang pola kegiatan yang akan dilaksanakan dalam proses pembelajaran dan merancang bahan-bahan pembelajaran.
2.1.2.      Pengertian model pembelajaran kooperatif
Kooperatif dalam bahasa inggris ‘cooperative’ mengandung pengertian bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama (Hamid Hasan dalam Solihatin dan Raharjo. 2005:4). Sedangkan menurut Solihatin dan Raharjo (2005:4) bahwa :
‘cooverative learning’ mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih dimana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok.

Sementara itu, menurut Marno dan Idris (2008:84) bahwa :
Pola interaksi yang monoton Guru-Siswa(G-S), misalnya guru menerangkan–siswa mendengarkan atau guru bertanya dan murid menjawab, biasanya tidak berhasil memikat perhatian siswa untuk waktu yang lama.

Teori yang melandasi pembelajaran kooperatif adalah teori kontruktivisme. Pada dasarnya pendekatan teori kontruktivisme dalam belajara adalah suatu pendekatan dimana siswa harus secara individual menemukan dan mentranformasikan informasi yang kompleks, memeriksa informasi dengan aturan yang ada dan merevisinya bila perlu (Soejadi dalam Rusman, 2010:201).
Selanjutnya menurut Slavin (dalam Rusman, 2010:201) pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Hal ini memperbolehkan pertukaran ide dan pendapat masing-masing siswa dalam suasana yang tidak mengancam sesuai dengan falsafah kontruktivisme. Dengan demikian, seorang pendidik harus mampu mengondisikan, memberikan dorongan, memaksimalkan dan membangkitkan potensi siswa serta menumbuhkan aktivitas dan kreativitas peserta didik agar tumbuh dinamika di dalam proses pembelajaran.
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan dari teori belajar kontruktivisme yang lahir dari gagasan Piaget dan Vigotsky. Berdasarkan penelitian Piaget, dikemukakan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak (Ratna dalam Rusman, 2010:201).
Selain itu, pembelajaran kooperatif menempatkan peserta didik sebagai  bagian dari suatu sistem kerja sama dalam mencapai suatu hasil yang optimal dalam belajar. Keberhasilan belajar menurut model pembelajaran kooperatif bukan semata-mata ditentukan oleh kemampuan individu secara utuh, melainkan perolehan hasil belajar akan semakin baik jika dilakukan secara bersama-sama dalam kelompok-kelompok kecil yang terstruktur dengan baik.
Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang menitikberatkan pada keikutsertaan peserta didik dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif juga mendorong peningkatan kemampuan peserta didik dalam memecahkan berbagai permasalahan yang ditemui selama pembelajaran, oleh karena peserta didik dapat bekerja sama dengan peserta didik lain untuk menemukan dan merumuskan alternatif pemecahan terhadap masalah yang dihadapi dalam pembelajaran. Hal itu tentu saja dapat mengurangi beban seorang guru dalam melakukan proses pembelajaran.
Oleh karena itu, dalam pembelajaran kooperatif Guru harus bisa merangsang minat siswa agar secara aktif mampu berinteraksi dengan guru maupun teman-temannya. Dalam hal ini seorang guru harus mampu menjadi seorang pengajar sekaligus sebagai seorang motivator dalam kegiatan pembelajaran sehingga peserta didik dapat belajar dengan nyaman dan proses pembelajaran berjalan lebih menarik. Dengan demikian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan baik.
2.2.       Karakterisrtik Model Pembelajaran Kooperatif
2.2.1.      Prinsip dasar model pembelajaran kooperatif
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang menitikberatkan proses pembelajaran pada keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran melalui kerja sama dalam kelompok-kelompok kecil. Akan tetapi pembelajaran kooperatif bukanlah sekedar belajar kelompok atau kelompok kerja, karena belajar dalam model pembelajaran kooperatif harus ada struktur dorongan dan tugas-tugas yang sifatnya kooperatif sehingga terjadi interaksi yang saling membangun diantara peserta didik.
Menurut Stahl (dalam Solihatin dan Raharjo,2005:7-9) prinsip-prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :
a.                  Perumusan tujuan belajar harus jelas
Sebelum menggunakan model pembelajaran kooperatif, guru harus merumuskan tujuan dengan jelas dan spesifik menyangkut apa yang diinginkan oleh guru untuk dilakukan oleh peserta didik dalam kegiatan belajarnya.
b.                  Penerimaan yang menyeluruh oleh peserta didik tentang tujuan belajar
Guru harus bisa mengondisikan agar peserta didik dapat menerima tujuan pembelajaran dari sudut kepentingan diri dan kepentingan kelas. Oleh karena itu peserta didik harus memahami bahwa setiap orang dalam kelompoknya menerima dirinya untuk bekerja sama dalam belajar.
c.                  Ketergantungan yang bersifat positif
Guru harus mampu mengondisikan terjadinya interaksi antara peserta didik dalam kelompok dan mengorganisasikan materi dan tugas-tugas pelajaran sehingga peserta didik memahami dan mungkin melakukan hal itu dalam kelomponya

d.                 Interaksi yang bersifat terbuka
Dalam kelompok belajar, interaksi antara peserta didik harus langsung dan terbuka dalam mendiskusikan materi dan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Suasana belajar seperti itu akan menumbuhkan sikap saling memberi dan menerima masukan, ide, saran, dan kritik dari temannya secara positif dan terbuka.
e.                  Tanggung jawab individu
Salah satu dasar pembelajaran kooperatif adalah keberhasilan belajar akan lebih mungkin tercapai secara lebih baik apabila dilakukan secara bersama-sama. Oleh karena itu setiap peserta didik bertanggung jawab menerima dan memberi apa yang telah dipelajarinya kepada peserta didik lainnya.
f.                   Kelompok bersifat heterogen
Dalam pembentukan kelompok belajar, keanggotaan kelompok harus bersifat heterogen sehingga interaksi yang terjadi merupakan akumulasi dari berbagai karakteristik peserta didik yang berbeda. Dalam suasana belajar seperti itu akan tumbuh  dan berkembang nilai, sikap, moral, dan perilaku peserta didik.
g.                  Interaksi sikap dan perilaku sosial yang positif
Dalam mengerjakan tugas kelompok, peserta didik bekerja sebagai suatu kelompok kerja sama. Dalam berinteraksi dengan peserta didik lainnya, seorang peserta didi tidak boleh begitu saja menerapkan dan memaksakan sikap dan pendiriannya pada anggota kelompoknya. Peserta didi harus belajar bagaimana meningkatkan kemampuan dalam memimpin, berdiskusi, bernegosiasi dan mengklarifikasi berbagai masalah dalam menyelesaikan tugas-tugas elompok. Dalam hal ini guru harus mampu membantu peserta didik  tentang bagaimana sikap dan perilaku yang baik dalam bekerja sama . perilaku-perilaku tersebut antara lain kepemimpinan, pengembangan kepercayaan, berkomunikasi, menyelesaikan masalah, menyampaikan kritik dan perasaan-perasaan sosial.
h.                  Tindak lanjut (follow up)
Setelah masing-masing kelompok belajar menyelesaikan tugas dan pekerjaannya, selanjutnya perlu dianalisis bagaimana hasil kerja peserta didik dalam kelompok belajarnyatermasuk bagaimana hasil kerja yang dihasilkan, bagimana mereka membantu anggota kelompoknya dalam mengerti dan memahami materi dan masalah yang dibahas, bagaimana sikap dan perilaku mereka dalam berinteraksi, dan apa yang mereka butuhkan untuk meningkatkan keberhasilan kelompok belajarnya dikemudian hari. Oleh karena itu guru harus mengevaluasi dan memberikan masukan terhadap hasil pekerjaan dan aktivitas peserta didik.
i.                    Kepuasan dalam belajar
Setiap peserta didik dan kelompok harus mendapat waktu yang cukup untuk belajar dan mengembangkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilannya. Apabila peserta didik tidak mendapatkan waktu yang cukup dalam belajar, maka keuntungan akademis dari penggunaan pembelajaran kooperatif akan sangat terbatas.
2.2.2.      Jenis-jenis model pembelajaran kooperatif
Ada beberapa variasi jenis model pembelajaran kooperatif, walaupun prinsip dasar dari pembelajaran kooperatif ini tidak berubah, jenis-jenis tersebut adalah sebagai berikut :
a.                  Model Student Teams Achievement Division (STAD)
Model ini dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin. Model ini sangat mudah diadaptasi dan telah digunakan di berbagai jenis mata pelajaran seperti Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggirs pada tingat sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Dalam STAD, siswa dibagi menjadi kelompok beranggotakan empat orang yang beragam kemampuan, jenis kelamin, dan sukunya. Guru memberikan suatu materi dan siswa dalam kelomponya memastikan menguasai materi tersebut secara bersama-sama. Akhirnya siswa mendapat kuis tentang materi tersebut, dan pada saat itu mereka tidak boleh saling membantu.
b.                  Model Jigsaw
Model ini dikembangkan dan diujicoba oleh Elliot Aronson dan teman-temannya di Universitas Texas. Arti Jigsaw dalam bahasa Inggris adalah gergaji ukir dan ada juga yang menyebut dengan istilah puzzle yaitu sebuah teka-teki menyusun potongan gambar. Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw mengambil pola cara kerja gergaji (zigzag) yaitu siswa melakukan suatu kegiatan belajar dengan cara bekerja sama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan bersama. Pada dasarnya, dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen yang lebih kecil. Selanjutnya guru membagi siswa kedalam kelompok belajar yang terdiri dari 4 oarng siswa sehingga setiap orang bertanggung jawab terhadap penguasaan setiap komponen yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya.
c.                  Investigasi Kelompok (Group Investigation)
Model belajar ini dikembangkan oleh Shlomo Sharan dan Yael Sharan di Universitas Tel Aviv, Israel. Secara umum pembelajaran model Investigasi Kelompok adalah siswa dibagi kedalam kelompok-kelompo yang beranggotakan 2-6 orang. Tiap kelompok bebas memilih dari subtopik yang akan diajarkan dan kemudian membuat laporan kelompok. Selanjutnya setiap orang mempresentasikan laporannya epada semua kelas.
d.                 Model Make a Match (Membuat Pasangan)
Model Make a Match dikembangan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu keunggulan model ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Penerapan model pembelajaran ini dimulai dengan menyuruh siswa mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban/soal sebelum batas waktunya, siswa yang dapat mencocokkan kartunya diberi poin.
e.                  Model TGT (Teams Games Tournaments)
Menurut Saco(dalam Rusman,2010:224) dalam TGT siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperolah skor bagi tim mereka masing-masing. Permainan dapat disusun guru dalam bentuk kuis berupa pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi pelajaran. TGT menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari 5-6 orang yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku atau ras yang berbeda. Ciri-ciri TGT adalah sebagai berikut :
1.         Siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil;
2.         Games tournament;
3.         Penghargan kelompok
f.                   Model Struktural
Ada empat prinsip dasar yang penting untuk model pembelajaran , Struktural yaitu interaksi serentak, partisipasi belajar, interdependensi positif, dan akuntabilitas perseorangan.
2.3.       Keunggulan dan Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif
2.3.1.      Keunggulan model pembelajaran kooperatif
Sebuah model pembelajaran tentunya mempunyai karakteristik tersendiri sehingga akan mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Demikian juga dengan model pembelajaran kooperatif mempunyai kelebihan dan kekurangan di dalam implementasinya di dalam pembelajaran. Sehingga seorang guru dituntun untuk mampu menganalisa dan mencocokkan model pembelajaran yang akan digunakan dengan materiyang akan diajarkan.
Menurut Wina (2006:249-250) keunggulan model pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :
a.                  Siswa tidak terlalu tergantung pada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, dan belajar dari siswa yang lain.
b.                  Dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
c.                  Membantu siswa untuk respek terhadap orang lain dan menyadari keterbatasannya.
d.                 Membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
e.                  Cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri, keterampilan mengatur waktu dan sikap positif terhadap sekolah.
f.                   Mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri dan menerima umpan balik.
g.                  Meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata.
h.                  Interaksi selama pembelajaran kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berpikir. Hal itu sangat berguna untuk endidikan jangka panjang.
2.3.2.      Kekurangan model pembelajaran kooperatif
Selanjutnya, juga diutarakan tentang kelemahan model pembelajaran kooperatif[1]. Kelemahan itu antara lain :
a.                  Untuk memahami dan mengerti filosofis pembelajaran kooperatif butuh waktu yang lama. Untuk siswa yang dianggap memiliki kelebihan, mereka akan merasa terhambat oleh siswa yang dianggap kurang memiliki kemampuan.
b.                  Penilaian yang diberikan dalam pembelajaran kooperatif didasarkan pada hasil kerja kelompok, sehingga guru harus menyadari bahwa prestasi yang diharapkan adalah pretasi setiap individu.
c.                  Walaupun kemampuan bekerja sama merupakan kemampuan yang sangat penting untuk siswa, akan tetapi banyak aktivitas dalam kehidupan yang hanya didasarkan kepada kemampuan secara individual. Oleh karena itu selain siswa belajar bekerja bersama, siswa juga haru belajar bagaimana belajar membangun kepercayaan diri.


[1] Ibit hal.14

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1.            Simpulan
Dari uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang berpusat pada siswa. Sehingga tingkat tercapainya tujuan pembelajaran bergantung pada kemampuan seorang guru mengelola pembelajaran agar para siswa benar-benar terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Sehingga terjadi interaksi timbal balik, baik antara siswa dengan guru maupun antara siswa dengan siswa.
Hal yang sangat penting dalam pembelajaran kooperatif adalah para siswa harus menyadari bahwa bekerja secara bersama lebih baik dab lebih efektif daripada bekerja secara individual. Oleh karena itu guru perlu menanamkan sikap saling menghargai dan menyadari keterbatasan diri pada semua peserta didik.
Tujuan pembelajaran kooperatif adalah membangun kepercayaan dalam diri para siswa, meningkatkan kemampuan berpikir, kemampuan memimpin, kemampuan berinteraksi secara positif, kemampuan menyampaikan ide dan gagasan serta kemampuan untuk betanggung jawab dalam belajar. Hal itu sangat berguna untuk tujuan jangka panjang karena siswa akan tumbuh menjadi seorang pribadi yang berkarakter pekerja keras.
Pembelajaran kooperatif mempunyai beberapa kelemahan dalam aplikasinya. Akan tetapi melihat tujuan dan prinsip dasar pembelajaran kooperatif, dapat dikatakan bahwa pembelajaran model ini sangat cocok digunakan diberbagai mata pelajaran yang ada saat ini. Hanya saja guru harus benar-benar memahami prinsip dasar pembelajaran kooperatif agar mampu mengatasi hal-hal yang menjadi kendala serius dalam proses pembelajaran.
3.2.            Saran
Kenyataan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia belum dapat dikategorikan baik memunculkan pertanyaan bahwa apaka proses pembelajaran yang digunakan sudah benar atau belum? Seringkali seorang guru terlalu memaksakan kehendaknya kepada para siswa tanpa memperdulikan kebutuhan dan keadaan para siswa itu sendiri. Oleh karena itu sudah saatnya para guru harus beralih ke model-model pembelajaran yang sifatnya berpusat pada siswa, salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif. Guru disarankan untuk mulai meninggalkan pola-pola lama dalam pembelajaran dan beralih ke model pembelajaran yang berpusat pada siswa bukan berpusat pada guru.
Penggunaan model pembelajaran kooperatif dalam proses belajar di sekolah dapat meningkatkan kualitas diri para siswa sehingga secara pribadi akan berusaha untuk terus menerus belajar sehingga tujuan jangka panjang pembelajaran dapat tercapai.

 
DAFTAR PUSTAKA
Rusman. 2010. Model Model Pembelajaran. Bandung: Rajawali Pers, hal. 132-133, 201,224.
Solihatin, Etin dan Raharjo. 2005. Cooperative Learning. Jakarta: Bumi Aksara, hal. 4,7-9.
Sanjaya, Wina. `2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Bandung: Kencana, hal.249-250.
Marno dan Idris. 2008. Strategi dan Metode Pembelajaran. Jogjakarta:Ar-Ruzz Media, hal. 84

0 komentar: